Saturday, March 5, 2011


 Waktu luang merupakan saat-saat untuk merefresh pikiran, mencoba menyegarkan penatnya otak dari setumpuk tugas-tugas kuliah. Maka untuk mengisi waktu luang sambil mengenali budaya-budaya daerah Riau yang kental dengan budaya Melayu,
saya berkunjung ke museum daerah provinsi Riau beberapa waktu lalu.Museum tersebut terletak di kawasan jalan Jenderal Sudirman, berdampingan dengan Taman Budaya provinsi Riau dan kompleks Perkantoran Jenderal Sudirman.Nama Sang Nila Utama sendiri berasal dari nama seorang Raja Bintan yang mememerintah daerah Bintan pada abad XII.
       Sayang sekali saya harus berkeliling di gedung dua lantai tersebut sendirian karena guide yang biasa menemani pengunjung sedang dinas keluar. Bangunan besar tersebut sangat sepi, saya adalah pengunjung pertama padahal waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB berarti satu jam lagi penjaga museum tidak menerima pengunjung lagi.
      “ Biasanya pengunjung banyak pada saat-saat libur, lagi pula pengunjung biasanya banyak yang berasal dari luar kota, kalau masyarakat dari kota Pekanbaru sendiri sangat jarang,” tutur Titin salah satu penerima tamu di ruang adminstrasi pengunjung.
      Hal pertama yang terlintas di pikiran saya ketika menginjakkan kaki ditangga museum yang diberi nama Sang Nila Utama itu adalah : saya akan menemukan berbagai benda yang telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, dengan kata lain saya akan menemukan berbagai benda tua disana.
      Ternyata benar, di dalam museum yang dibangun mulai tahun 1977 hingga 1994 tersebut saya menemukan berbagai koleksi museum yang terdiri dari berbagai benda dari masa lampau. Ada berbagai koleksi kapak batu, kapak berimbas dan alat batu serpih dari zaman paleolitikum, mesolitikum dan neolitikum. Kemudian ada berbagai peninggalan dari masa keraja an-kerajaan melayu di Riau, seperti  replika payung kebesaran kerajaan Siak, kemudian ada tampuk bantal dan peralatan dari perak, lalu ada senjata pistol lantak dan baju besi, dan koleksi-koleksi lainnya.
      Di lantai dua kita juga akan menemukan foto orang-orang yang berjasa kepada Riau. Ada foto Tuanku Tambusai, Imam Bonjol, Soeman HS dan lainnya. Selain itu ada juga foto-foto gubernur Riau yang pertama hingga gubernur saat ini. Di lantai dua tersebut saya menemukan banyak sekali benda-benda langka. Puas mengelilingi lantai dua kemudian saya turun menuju lantai satu. Kebetulan bentuk arsitektur bangunan museum berbentuk rumah panggung sehingga ketika kita masuk ke museum maka kita langsung naik kelantai dua.
      Di lantai satu ada miniatur candi Muara Takus, kemudian ada beberapa hasil karya dan alat-alat yang digunakan masyarakat Riau zaman dahulu seperti koleksi telepon engkol, mesin jahit dan gramofon, kemudian lukah dan bubu penangkap ikan, dan ada juga anyaman-anyaman berbagai model peralatan penangkap burung. Berjalan ke arah kanan, kita akan menemukan diorama pandai besi yang menggambarkan kehidupan pandai besi zaman dahulu, kemudian ada diorama kehidupan suku sakai. Selain diorama ada beberapa miniatur seperti miniatur istana Rokan, miniatur rumah adat, miniatur pulau penyengat, miniatur kapal lancang kuning dan miniatur beberapa sampan lainnya.
      Selesai menjelajah sebelah kanan, saya menuju sebelah kiri, diruangan kiri, beberapa koleksi yang tersimpan disebelah kiri antara lain, berbagai macam koleksi pakaian adat kabupaten di provinsi Riau, koleksi peralatan dan desain motif kain batik, nah lho? Saya sedikit terkejut, ternyata batik bukan hanya berasal dari daerah Jawa saja, orang-orang melayu sejak zaman dahulu sudah mengenal bahkan membuat batik. Terbukti dengan beberapa koleksi kain batik tulis, kain batik cap, dan kain batik songket bahan sutra. Selain batik ada juga koleksi kain songket dan kain tenun ikat Riau.
      Lebih dari satu jam saya berkeliling di dalam museum tersebut, setelah di peringatkan oleh bagian adminstrasi bahwa museum akan tutup. Dengan berat hati saya harus meninggalkan bangunan yang menyimpan sekitar 4.196 buah koleksi tersebut.
      Sekilas memandang bangunan tersebut memang sama bahkan kurang megah jika dibandingkan dengan bangunan yang berderet-deret di jalan Sudirman, namun di dalamnya tersimpan banyak cerita cerita yang diwariskan masa lalu. Banyak benda-benda langka yang pada saat ini sudah tidak bias kita temukan lagi. Museum Sang Nila Utama menyimpan berbagai replika sejarah dan budaya masyarakat melayu Riau maupun berbagai koleksi sejarah dan kebudayaan masyarakat Indonesia.(Asrul Rahmawati)

Bookmark and Share

2 komentar:

Si Arif said...

emang kalau liburan gini paling enak main ke museum kawan,.,makasih infonya,.,good luck ya,.

Rulirara said...

@arif nur : Museum kita memang menyimpan banyak peninggalan sejarah. Makanya kulik langsung aja deh kesana...

Post a Comment

Kritik,Saran dan Tanggapan Anda Sangat Kami Harapkan
[NO SPAM, SARA, PORNOGRAFI]
Setiap Komentar* akan di Ikutkan dalam Program Top Komentar yang Berhadiah Pulsa Elektrik senilai Rp.10.000,- dan Rp.5.000,- yang di Berikan dua bulan sekali
*Syarat Ketentuan berlaku baca selengkapnya

 
The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net